Kami Indonesia

Tutup

5 Buku Asli Indonesia yang Wajib Kamu Baca di Akhir 2018

01-Nov-2018 57 0

Kamiindonesia.id - Hai gaes, hari ini sudah memasuki bulan November. Sebentar lagi kita akan menutup tahun 2018 loh, apakah kalian sudah membaca buku-buku yang menjadi resolusi tahun ini? Jika tidak ada baiknya untuk menyegerakan atau jika ingin mencoba genre buku baru kalian wajib tahu ada buku keren asli Indonesia yang mesti kalian baca.
Jika selama ini kalian berpikir hanya buku-buku karya asing yang bisa membuka pikiran dan memberimu suatu pelajaran, hal itu terbukti salah. Buku hasil karya anak bangsa itu nggak kalah bagusnya dengan karya tulis dari luar. Seperti buku karya Pramoedya Anantatoer yang diwajibkan di puluhan negara untuk dibaca.

Berikut lima buku karya asli Indonesia yang berjaya di luar negeri dan sayang banget jika kamu lewatkan!

1. Bumi Manusia
Kamu butuh sebuah buku yang mampu membangkitkan nasionalismemu? Salah satu penulis hebat dari negeri ini ialah Pramoedya Ananta Toer, sang sastrawan Indonesia yang mendapatkan banyak penghargaan sastra dari berbagai penjuru dunia, kamu pasti pernah mendengar juga tentang Bumi Manusia, buku pertama dari seri Tetralogi Buru yang fenomenal itu.

Pasalnya, buku ini sudah dicetak ulang lebih dari sepuluh kali sejak penerbitan pertamanya dan telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Pastinya ada suatu hal yang menarik dari buku ini bukan?
Pada buku ini kamu diajarkan untuk mencintai negerimu, mengerti tentang jalan perjuangan anak bangsa hingga memasuki masa awal kebangkitan, hingga berujung kemerdekaan. Sebab di buku ini kamu dapat merasakan kembali bagaimana proses masa perjuangan pra-kemerdekaan Indonesia dan juga mengetahui betapa pentingnya peran pendidikan dalam mengubah derajat manusia dan nasib suatu bangsa.

Buku ini akan membangkitkan semangat nasionalisme dirimu yang mungkin sudah padam sejak sekian lama.

2. Catatan Seorang Demonstran
Pernahkah kamu mendengar seorang tokoh bernama Soe Hok Gie? Ia adalah seorang aktivis yang menentang kediktatoran yang dilakukan oleh Presiden Soekarno dan Soeharto pada tahun 60-an.

Meskipun mungkin perilaku yang ditunjukkannya berkesan seperti “anak bandel”, sebenarnya ia adalah seseorang yang cerdas dan berani menunjukkan suaranya saat melihat ketidakadilan yang terjadi di negara tercinta kita, Indonesia.

Protes pada ketidakadilan yang berlangsung di sekitarnya membuat dirinya sering menulis berbagai artikel untuk dimuat di surat kabar dan juga menulis buku harian yang akhirnya dipublikasikan menjadi buku Catatan Seorang Demonstran.

Dari buku ini, kamu bisa mempelajari karakternya yang patut dijadikan panutan oleh seluruh kaum muda Indonesia. Tak hanya cerdas dan luar biasa berani, Soe Hok Gie juga merupakan seorang pemuda yang memiliki prinsip dan integritas yang benar, serta peduli dan mau berjuang untuk kemajuan bangsa Indonesia!
Sungguh, para kaum muda Indonesia masa kini harus memiliki api yang sama seperti Soe Hok Gie agar negara Indonesia tercinta dapat semakin maju dan terus bertransformasi menjadi lebih baik.

3. Madilog
Mungkin banyak diantara kamu yang belum mengenal Tan Malaka, sang Bapak Republik Indonesia yang telah menulis konsep Republik Indonesia jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Selain membuat tulisan yang menginspirasi kaum muda untuk memperjuangkan kemerdekaan, Tan Malaka juga meninggalkan sebuah karya tulis yang berisikan cita-citanya bagi Indonesia. Karya tulis tersebut berjudul Madilog, yang merupakan singkatan dari Materialisme-Dialektika-Logika.

Melalui buku ini, kamu bisa mengetahui cita-cita luhur Tan Malaka. Yaitu, agar orang Indonesia selalu berpikir menggunakan logika saat melihat masalah daripada menggunakan kacamata gaib.
Selama ini orang-orang Indonesia selalu percaya bahwa apa yang terjadi di dunia merupakan akibat pekerjaan kekuatan gaib. Kepercayaan tersebut membuat orang-orang selalu menggantungkan diri kepada kekuatan gaib untuk menghadapi masalah daripada menghadapi sendiri setiap tantangan yang ada.

Padahal, agar dapat menjadi bangsa yang maju, kamu sebagai orang Indonesia harus berlogika, menggunakan pola pikir yang rasional, terstruktur, dan selalu melihat bukti yang ada sebelum mencapai kesimpulan.
Jika kamu memiliki pola pikir seperti itu, maka Indonesia pasti mampu bergerak kepada masa depan yang lebih baik.

4. Max Havelaar

Apakah kamu masih mengingat seorang tokoh bernama Eduard Douwes Dekker? Ya, ia adalah salah satu tokoh terkenal di buku-buku sejarah Indonesia yang memiliki peran dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Jika kamu masih ingat kisahnya, kamu pasti tahu bahwa ia menciptakan sebuah buku berjudul Max Havelaar dengan menggunakan pen name Multatuli yang telah menggemparkan seluruh Eropa. Dari karya tulis ini, semua orang tahu mengenai ketidakadilan yang terjadi di Indonesia saat dijajah kolonial!

Buku ini bisa membawa kamu kembali ke Indonesia tempo dulu dan memperlihatkanmu sejarah Indonesia yang sebenarnya, dimana pelaku penjajahan yang dialami negara kita dahulu itu bukan hanya berasal dari orang asing melainkan saudara setanah air kita sendiri yang egois dan hanya mementingkan kekayaan dirinya sendiri.
Isi dari buku ini bisa digunakan untuk kita para warga Indonesia kembali bercermin. Apakah Indonesia yang sekarang sudah benar-benar merdeka? Ataukah sebenarnya kita masih dijajah oleh orang-orang tersebut?

5. Habis Gelap Terbitlah Terang

Saat melihat judul buku ini, tentunya kamu sudah tahu dong siapa penulisnya? Kalau kamu nggak tahu, mungkin kamu harus kembali ke bangku sekolah dasar dan mendengarkan mata pelajaran sosial dengan lebih serius.

Buku yang terkenal sebagai karya dari tokoh pejuang emansipasi wanita ini merupakan kumpulan dari surat yang ditulis Raden Ajeng Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Eropa. Cita-cita dan harapannya untuk memajukan kaum wanita di Indonesia yang tertera dalam surat-surat tersebut pun menginspirasi banyak wanita untuk memperjuangkan haknya.
Karya tulis ini akan mengenalkanmu pada arti dari emansipasi wanita yang sebenarnya dan juga mengajarkanmu untuk bermimpi dan memperjuangkan mimpimu hingga titik darah penghabisan.
 

Sumber: Blibli.com

Foto: Via Silvita Agmasari