Kami Indonesia

Tutup

Inilah Perpustakaan Kayu yang Menyimpan Ribuan Spesimen di Indonesia

06-Dec-2018 49 0

Kamiindonesia.id - Mungkin belum banyak yang tahu, Indonesia memiliki Xylarium Bogoriense atau biasa dikenal dengan perpustakaan kayu nomor satu dunia dengan 192.395 spesimen, pada September 2018. 

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengelola perpustakaan yang menyimpan ribuan spesimen kayu dari seluruh Indonesia. Perpustakaan terletak di Kota Bogor, Jawa Barat ini memiliki koleksi hingga 192.395 spesimen kayu.

Akhir September lalu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menandatangani prasasti deklarasi Xylarium Bogoriense di Yogyakarta. ”Sebuah prestasi yang patut kita syukuri bersama, dan sebagai bukti nyata bahwa Indonesia mampu berkiprah pada tataran internasional dalam bidang pengelolaan keragamanan sumberdaya hayati,” katanya dalam keterangan kepada media.

Penandatangan prasasti ini di atas kayu leci (Litchi chinensis) dengan diameter 108 (terbesar) dan 90 (terkecil). Pohon ini merupakan endemik China yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada 1923, salah satu pohon tertua di Kebun Raya Bogor dan tumbang pada 2018.

Sejak 1914, Xylarium Bogoriense pertama kali didirikan oleh pemerintah Belanda. Perpustakaan ini satu dari 184 xylarium di dunia yang ada di 60 negara. Sejak 1975, perpustakaan ini telah tercatat dalam Index Xylariorum, Institutional Wood Collection yang dikelola International Association of Wood Anatomists (IAWA).

Data KLHK, Juli 2018, Xylarium Bogoriense menempati peringkat keempat perpustakaan kayu di dunia dengan koleksi 67.864 spesimen kayu. Belanda (Leiden) menduduki urutan pertama dengan 125.000 spesimen, diikuti Amerika Serikat (Laboratory USDA) dengan 105.000 spesimen dan Belgia (thr Royal Museum of Central Africa) dengan 69.000 spesimen.

”Selain sebagai wujud pendokumentasian jenis kayu, Xylarium juga bermanfaat sebagai bahan rujukan utama dalam identifikasi kayu, karena memiliki informasi ilmiah, keragaman jenis dan persebaran jenis kayu,” kata Dwi Sudharto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, di Bogor.

Kini koleksi perpustakaan ini sudah meningkat hingga 192.395 spesimen, pada September 2018. Pencapaian angka ini tak lepas peran dari berbagai pihak, seperti Kemenristekdikti, LIPI, perguruan tinggi, industri perkayuan, pemerintah provinsi, lembaga swadaya masyarakat dan pengelola kesatuan pemangku hutan turut serta menambah koleksi.

Pada 10 Agustus 2018, Menteri Siti mengirimkan surat kepada gurbernur agar bersama berkontribusi meningkatkan koleksi spesimen kayu ke Xylarium Bohoriense ini. Meski begitu, kata Dwi, masih minim koleksi spesimen kayu dari pulau-pulau kecil dan Papua. Padahal, katanya, koleksi spesimen dari daerah-daerah itu sangat perlu.

Xylarium jadi basis utama identifikasi kayu dalam perdagangan produk kayu. Pasalnya, dokumentasi ini memuat dokumentasi keragaman jenis kayu di Indonesia yang bermanfaat sebagai penunjang penelitian dan sumber informasi ilmiah jenis kayu.

Krisdianto, peneliti madya di Laboratorium Anatomi Tumbuhan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor mengatakan, spesimen kayu yang disimpan berbentuk trapesium. Setiap spesimen didokumentasikan berdasarkan nomor koleksi, asal kayu, nama latin, nama lokal, suku, tanggal pengoleksian hingga nama kolektor.

Spesimen ini, katanya, tak hanya untuk para peneliti, juga bagi bea cukai, aparat kepolisian dan importir kayu negara lain. Hal ini, katanya, untuk mengidentifikasi dalam penegakan hukum dan perdagangan kayu bebas.

Pendeteksi kayu dalam hitungan detik

September lalu, Puslitbang Hasil Hutan KLHK meluncurkan alat identifikasi kayu otomatis (AIKO) berbasis computer vision. AIKO merupakan aplikasi untuk identifikasi jenis kayu lebih cepat dan akurat. Alat ini hasil kerjasama KLHK dan LIPI sejak 2017 melalui dukungan program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (INSINAS), Kemenristekdikti.

Hanya dalam hitungan detik, AIKO mampu mengidentifikasi kayu. Jelas, aplikasi sangat efisien dalam mengidentifikasi kayu secara manual, yang biasa memerlukan waktu 1-2 minggu karena ada 163 karakter perlu dicermati. Basis data dalam aplikasi ini didukung koleksi kayu yang ada Xylarium Bogoriense, yang memiliki lebih 45.000 contoh kayu dari 3.000 spesies kayu se-Indonesia.

”Alat ini sangat membantu efisiensi proses identifikasi jenis kayu, pengelompokan jenis kayu perdagangan, penyelesaian konflik dalam penentuan jenis kayu, pemetaan potensi kepentingan konservasi dan pengembangan usaha,” kata Dwi.

Aplikasi berbasis data digital ini dapat memberikan informasi berupa nama latin atau jenis kayu, berat jenis, kelas kuat, kelas awet, klasifikasi perdagangan, dan rekomendasi kegunaan. Berdasarkan data License Information Unit (LIU) sebanyak 1.044 jenis kayu yang diperdagangkan di Indonesia.

Kini, jumlah bertambah sekitar 226 jenis kayu masih belum terdata. Adapun, 132 jenis spesies kayu belum terdaftar dalam Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 163/2009.

Aplikasi AIKO ini dapat digunakan pada aplikasi Android dengan memotret penampang kayu, selanjutnya ponsel yang terkoneksi internet akan mengidentifikasi jenis kayu dalam hitungan detik. Aplikasi ini akan melakukan kesamaan data dengan gambar dari data yang tersimpan dalam server.

Peningkatan PNBP

Terobosan pengembangan aplikasi AIKO ini pun diharapkan mampu meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP).

Dwi memperkitakan, bila dalam satu hari AIKO bisa dipakai sampai 500 kali dengan tarif Rp100.000 per identifikasi, akan menghasilkan miliaran rupiah bagi PNBP. Saat ini, Pusat Litbang Hasil Hutan menyetor sekitar Rp300 juta PNBP per tahun dari identifikasi kayu.

Meski saat ini, aplikasi ini masih belum bisa dipakai umum dan belum diunggah di Playstore maupun IOS. ”Kami masih mencari-cari siapa yang mau membiayai ini supaya bisa dipakai masyarakat luas.” Terobosan ini masih terkendala pembiayaan lanjutan.

Source: GNFI

Foto: Trubus.id