Kami Indonesia

Tutup

Penyelam Lion Air Meninggal Karena Dekompresi. Mengapa Penyelam Bisa Dekompresi?

05-Nov-2018 78 0

Kamiindonesia.id - Penyelam Syachrul Anto dalam misi mencari korban Lion Air JT-610 meninggal dunia. Diduga, Syachrul diduga mengalami masalah dekompresi saat menyelam.

Ia dibawa dalam kondisi tak sadarkan diri dan tidak merespons. Pada pukul 22.30 WIB, tim dokter yang menangani Syachrul menyatakan bahwa relawan itu telah meninggal dunia. 

Apa sebenarnya dekompresi?

Dekompresi sendiri gangguan yang dialami oleh penyelam. Gejala yang muncul karena masalah ini adalah pusing, lemas, sampai sesak napas. 

Mengutip berbagai sumber, dekompresi terjadi ketika adanya perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat. Kondisi ini akan membuat nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang akhirnya menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah dan organ.

Gelembung yang terbentuk di dalam atau area dekat sendi akan menyebabkan rasa nyeri di otot. Ketika jumlah gelembung ini terlalu banyak, maka tubuh pun akan bereaksi di area tulang punggung ataupun otak. 

Kondisi yang lebih berbahaya akan terjadi ketika gelembung masuk ke aliran darah pembuluh vena. Pada kondisi ini, penyelam bisa pingsan bahkan sampai meninggal. 

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan peningkatan risiko penyelam mengalami dekompresi. 

Beberapa di antaranya adalah karea dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh sampai terbang langsung setelah menyelam. 

Berat badan berlebih atau obesitas, usia di atas 30 tahun, dan riwayat penyakit jantung juga meningkatkan risiko seseorang terkena dekompresi. 

Pengobatan

Dekompresi bisa diobati dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah penanganan darurat di tempat. 

Langkah awal yang harus dilakukan adalah membaringkan pasien dalam posisi telentang. Tubuh pasien harus dikeringkan dan dihangatkan dengan selimut ketika suhu tubuh menurun. 

Selain pengobatan di tempat, pengobatan dengan terapi oksigen hiperbarik digunakan untuk menangani penyakit ini. Terapi ini menggunakan alat berupa tabung atau kamar khusus untuk menstimulasi. Hanya saja pertimbangan untuk melakukan terapi hiperbarik ini tergantung pada keparahan gejala. (chs)

 

Source: CNNindonesia.com

Foto: CNNindonesia.com