Mursyidin Yusuf
Mahasiswa

Tutup

Wisata Pilihan

Manusia Itu Seperti Ini

17-Mar-2018 17-Mar-2018 289 5

Ikan yang ada di dunia itu beraneka ragam, beda jenis maka beda pula namanya. Tumbuhan pun demikian, banyak jenisnya, hewan bermacam-maam spesies. Maka begitu pula dengan manusia, tidak semua manusia itu sama, mulai dari nama, postur tubuh, sifat, wajah, dan seterusnya.

Dalam kehidupan kita, sering kita dengar, sering kita lihat dan sering saksikan berbagai macam manusia di sekitar kita, baik berkarakter baik atau pura-pura baik. Ibarat atau perumpamaan orang-orang yang ada di sekitar kita ada empat macam.

Yang pertama adalah ibarat TELUR. Kenapa telur?. Telur memiliki kulit yang keras dan di dalamnya terdapat air kental dengan dua warna yang berbeda, kuning dan putih. Telur, apabila kita masukkan ke dalam air mendidih, ia akan mengalami perubahan, bukan pada kulitnya, tapi pada isinya.

Kita sudah tahu kalau air yang ada di dalam telur tadi sebelum dimasukkan ke dalam air mendidih masih dalam keadaan cair, namun ketika ia dimasukkan ke dalam air mendidih, ia mengeras dan tak ada lagi cair di dalamnya.

Sama halnya dengan manusia, jika manusia yang pada awalnya berbudi baik atau lembut, sifatnya bisa saja berubah ketika ia bergaul atau bergabung dengan orang-orang yang buruk perangainya, sehingga sifat baik dan lembutnya pada orang lain tadi berubah menjadi keras dan buruk. Itu dikarenakan pergaulan yang ia geluti di dalamnya juga adalah buruk dan mempengaruhinya.

Maka itu ibarat telur yang cair isinya kemudian berubah menjadi keras ketika dimasukkan ke dalam air mendidih.

Yang kedua INDOMIE. Pastinya kita kenal makanan yang satu ini. Santri dan mahasiswa pasti sangat kenal. Kenapa?. Karena hanya mie-lah yang menjadi santapan andalan mereka, tak pandang pagi, siang ataupun sore. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menggunakannya sebagai santapan sahur dan berbuka, apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang yang membuat kita tak tinggal bersama keluarga, dengan alasan menuntut ilmu.

Kembali ke perumpamaan. Mie, ketika berada dalam kemasan, awalnya terbilang keras. Namun ketika ia dimasukkan ke dalam air mendidih, ia akan melembek, beda dari sebelumnya.

Perumpamaannya, pada diri manusia ada yang awalnya keras namun hatinya mudah luluh dan patuh pada kebaikan. Ini diibaratkan bahwa sifat kerasnya dahulu telah dicelup ke dalam air mendidih sehingga membuatnya lebih lembek. Baik itu ia terima dari nasihat orang lain atau sadar dengan sendirinya.

 Orang seperti itu adalah orang yang baik kita jadikan teman. Namun yang harus kita garisbawahi bahwa orang seperti ini tidak boleh kita usik kembali masa lalunya yang suram untuk kita jadikan ledekan. Karena bisa saja ia berubah dengan cepat ke masa buruknya karena kita.

Dalam artian, mereka sensitif mengingat hal-hal yang sudah lalu di kehidupannya. Kita harus menjadi teman yang baik baginya dan menasihatinya dengan baik tanpa menyinggung perasaannya. Maka orang sepeti inilah yang diibratkan dengan indomie, wataknya yang keras dapat berubah luluh ketika ia bergaul kepada orang-orang yang lemah lembut dan berilmu.

Ketiga, KOPI. Heran?. Itu pasti, kenapa manusia harus diibaratkan seperti kopi yang warnanya hitam pekat?. Pada prinsipnya, kita sudah tahu warna kopi.

Apabila kopi itu kita masukkan ke dalam air panas, maka warna airlah yang akan berubah mengikuti warna kopi yang hitam tadi, bukan warna kopi yang berubah mengikuti warna air. Air yang tadinya jernih berubah warna ketika serbuk-serbuk hitam kopi mencampurinya. Begitu halnya dengan manusia, ia dapat seperti itu.

 Manusia akan mudah berubah sifatnya dan mengubah sifat orang lain kepada jalan kegelepan, ibarat warna kopi. Artinya, seseorang bisa berubah dan meniti jalan kesesatan jika hatinya yang bersih dirasuki oleh pengaruh luar yang buruk dan mengajak kepada kesesatan.

Lagi-lagi ini disebabkan karena pergaulanlah yang mempengaruhinya. Dan ini tidak berbeda jauh dengan perumpamaan kopi tadi. Ia dapat merubah air yang jernih menjadi hitam pekat.

Selanjutnya, RACUN. Banyak sedikitnya racun yang masuk segelas air, maka akan mempengaruhi zat air tersebut sehingga bisa mematikan kepada siapa saja yang meneguknya. Dalam kehidupan kita, kita hampir serupa dengan racun tersebut. kapan?. Ketika kita dengan sadar dan sengaja melakukan keburukan dan mempengaruhi orang lain. Saya ambil contoh kecilnya saja, gosip.

Apapun akan mudah tersebarluas tatkala satu mulut mulai menggunjungnya. Yakin tak yakin ketika gosip itu menjadi hobi bagi siapa saja, tak hanya kaum Hawa yang umumnya seperti ini, namun kaum Adam juga termasuk di dalamnya.

Dimana dan kapan pun, gosip itu kerap sekali terjadi. Tak pandang itu di masjid, di rumah, apalagi di pasar. Nah. Kita ambil kesimpulan bahwa lidah yang cerewet dan menjadikan gosip sebagai hobinya itu ibarat racun, racun kehidupan. Apalagi jika hobi gosip ini dimiliki oleh kelompok atau komunitas, yakin dan percaya, hanya sekejap akan menyebar luas.

Yang ingin saya tanyakan adalah, kenapa kebanyakan gosip itu selalu membahas keburukan orang lain?.Yah, wajar saja, karena itu adalah prinsip utamanya dalam berdagang, berdagang bahan keburukan orang lain. Dianggap berdosa orang yang membawa berita gosip, menggunjingkannya, menyebarluaskannya, apalagi menambah atau mengurangi daripada faktanya.

Rupa-rupa manusia yang terakhir diibaratkan SUSU. Warna susu apa, yah? Putih?.Susu yang putih melebihi dari putihnya awan, apabila susu itu dimasukkan ke dalam segelas air jernih lalu diaduk, maka lama-kelamaan akan merubah airnya menjadi putih seperti warna susu. Susu yang saya maksud disini adalah susu putih bukan cokelat.

Manusia pun bisa seperti itu, yakni ketika kita bergaul kepada orang yang baik, yang bisa membimbing kepada kebaikan dan kebenaran. Sehingga dengan tuntunan itu hati kita menjadi lebih damai dan tenteram.

Orang yang seperti ini diibaratkan susu putih tadi yang berubah menjadi putih setelah digabungkan dengan air yang jernih. Intinya, bergaullah dengan mereka yang bergati baik dan mau menuntun ke jalan-Nya.

Saya tak tahu berada di barisan mana, yang pastinya kita hanya bisa introspeksi diri dan mengenal kesalahan-kesalahan kita selaku orang waras, karena hanya orang gilalah yang menganggap semua perbuatannya benar.

Namun ada satu orang disini yang tiap harinya membuatku risih, memang ia tak mengangguku secara langsung, tapi secara tak langsung, saya diganggu olehnya, bukan hanya pagi, tapi siang, dan juga malam hari.

Parahnya lagi, ini setiap hari dan ia merasa tak merasa bersalah. Betul-betul. Oia, bukan hanya saya saja yang risih, teman-teman sekamar yang lain pun merasakannya, hanya saja tak menanyakan langsung pada orangnya. Kenapa? Karena semakin kami memberitahunya, semakin menjadi-jadi dibuatnya. Hufts…. Sudahlah, semoga ia bisa menyadari kelakuan buruknya yang menganggu penghuni kamar lainnya.

 

MANUSIA YANG HEBAT ADALAH DIA YANG MAMPU MENUNTUN DIRINYA SENDIRI SERTA ORANG LAIN  KEPADA KEBENARAN WALAUPUN ORANG LAIN MENGEJEK DAN MENERTAWAKANNYA”

BERI TANGGAPAN
LOGIN REQUIRED