Kami Indonesia

Tutup

Hindari Makan Cokelat agar Tidak Diabetes, Kini Ada Polydextrose

03-Jan-2019 306 0

Kamiindonesia.id - Saat ini tren konsumsi cokelat terus meningkat di berbagai negara. Tak terkecuali di Indonesia. Cokelat merupakan makanan yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama milk chocolate yang mudah ditemui di pasaran. Selain rasanya yang manis, milk chocolate memiliki mouthfeel yang khas dan dapat memicu produksi hormon serotonin pada tubuh sehingga dapat mengurangi stress. Namun, tahukah anda bahwa komposisi utama pada milk chocolate  adalah gula?

Sumber : bbcgoodfood.com

Sumber : bbcgoodfood.com

Ya, menurut survey pasar yang dilakukan penulis, rata-rata milk chocolate batang komersial yang beredar di pasaran mengandung gula (sukrosa) sebesar 52 g/100 g produk atau setara dengan 208 kcal/ 100 g produk. Padahal, konsumsi gula erat kaitannya dengan obesitas, caries gigi, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya (Auerbach dan Dedman 2012). Menurut Atkinson, penggunaan gula pada milk chocolate bertujuan menekan rasa pahit yang secara alami ada pada kakao.

Jadi, apakah ada bahan lain yang dapat menggantikan peran gula?

Wah, ada lah!

Jika hanya ingin menggantikan rasa manis, dewasa ini banyak loh jenis pemanis non-kalori yang digunakan untuk menggantikan gula, mengingat trend hidup sehat yang semakin berkembang. Namun dalam kasus cokelat ini, perlu diperhatikan faktor lain yang mungkin berubah karena penggantian gula, seperti mouthfeel. Oleh karena itu, kombinasi pemanis acesulfame-K dan bulking agents polydextrose dapat digunakan untuk menggantikan peran gula pada cokelat.

Acesulfame-K bersifat stabil dan memiliki tingkat kemanisan 200x dari sukrosa. Jadi, dengan jumlah yang sedikit pun sudah dapat memberikan tingkat kemanisan yang sama seperti gula. Bagian yang lebih penting, acesulfame-K tidak menyumbangkan kalori pada bahan yang ditambahkan. 

Menarik bukan? Tapi kan acesulfame-K itu pemanis buatan, memangnya aman?

Acesulfame-K aman kok, selama penggunaannya masih dalam batas aman ya. Menurut PerKa BPOM No 4 Tahun 2014 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis, nilai ADI (acceptable daily intake) untuk acesulfame-K adalah 0-15 mg/kg berat badan. Pada produk kakao dan cokelat, batas maksimum yang diatur oleh BPOM yaitu sebesar 500 mg/kg produk. Jadi, apabila penggunaannya masih dalam batas aman tidak perlu khawatir ya.

Nah, pemanis acesulfame-K dan bulking agentspolydextrose jadi aman untuk menggantikan peran gula pada cokelat.Kombinasi pemanis non-kalori dan bulking agents ini ternyata dapat membantu konsumen menyeimbangkan energi dan mengurangi kalori pada pangan. Cokelat rendah kaori? Why not?

 

Source: Wenita Firliana dan Nela Rifda Nur Millatina (IPB 2015), GNFI

Foto: BBcgofood.com