Yusran Darmawan

Tutup

Inspirasi Agnez Mo untuk Indonesia

05-Aug-2018 427 0

SEPEKAN ini, Indonesia selayaknya bangga dengan capaian Agnez Mo, yang di sini sering disapa Agnez Monica. Sejak album internasionalnya dirilis pada 27 Juli 2018, Agnez perlahan menempati posisi penting di belantika musik dunia. Dalam waktu sepekan, album duetnya dengan musisi Chris Brown ini menjadi viral di chart 12 negara sekaligus. 

Agnez akan menjadi penyanyi Indonesia kedua setelah Anggun yang dikenal sebagai diva kelas dunia. Penjualan albumnya yang viral di banyak negara itu menjadi capaian penting bagi orang Indonesia yang hendak meniti karier di panggung dunia. Boleh jadi, penjualan album itu akan terus meninggi seiring dengan gencarnya promosi.

Kabar bahagia tentang Agnez diunggah oleh banyak akun fans base Agnez Mo, salah satunya adalah agnezmoday. Pencapaian Agnez terbilang fenomenal sebab sepuluh tahun lalu, tidak ada yang akan menyangka Agnez akan bisa mencapai titik ini. Ketika dirinya menyatakan ingin go international, dia menerima cibiran, bully, dan juga sinisme dari banyak orang di tanah air.

Di akun twitter pribadinya, Agnez kembali mengutip kalimatnya yang pernah diucapkan sepuluh tahun lalu: “Mereka bilang mimpiku terlalu liar, mustahil, tidak mungkin bisa dicapai. Tapi semua itu kujadikan motivasi. Semua air mata dan keringat yang mengalir akan membawaku ke atas panggung megah dengan musisi idolaku,” katanya sebagaimana dimuat ulang di akun Agnez Mo Fanbase.

Agnez memang sosok inspiratif. Saya masih ingat persis, tahun 2010, di ajang American Music Awards (AMA), Agnez perytama kalinya didaulat naik ke panggung untuk menjadi presenter. Dia terlihat kaku, dengan bahasa Inggris pas-pasan, sehingga di-bully banyak orang di negeri sendiri. Dia dianggap tidak layak dan mempermalukan.

Tapi Agnez tak patah arang. Dia terus mengasah diri sehingga setahun berikutnya, ketika membawakan presentasi di acara Dream, Believe, and Make It Happen, dia memesona semua audiens dengan bahasa Inggris yang sangat fasih. Bahkan seorang moderator berkebangsaan Amerika Serikat, menyatakan “Bahasa Inggrisnya jauh lebih fasih dari bahasa Indonesia saya.”

Pada situs-situs berbahasa asing, komentar tentang Agnez selalu positif. Agnez disebut sebagai fenomena baru. Situs globalgrind.com menyebut, bahwa meskipun Indonesia adalah negeri dengan kepadatan penduduk keempat dunia, Agnez akhirnya tampil di Amerika Serikat (AS) dan bekerjasama dengan produser hebat Timbaland. Kolaborasi mereka telah menelurkan album “Coke Bottle.” Kini, ia bekerja sama dengan vokalis Chris Brown yang disebut-sebut sebagai the next Michael Jackson.

Di dunia maya, Agnez memiliki banyak pembenci. Kelompok yang menamakan dirinya Agnez Haters ini membuat satu grup di media sosial yang isinya adalah kecaman pada Agnez. Segala hal tentang dirinya dicibir. Mulai dari gaya bernyanyi, peluncuran album yang dianggap terlalu dibuat heboh, hingga fakta penjualan albumnya yang biasa saja. Segala tingkahnya akan dikritik habis-habisan oleh penggemarnya.

Ketika Agnez menyebut ambisinya untuk go international, ia langsung dianggap arogan. Demikian pula ketika Agnez memajang fotonya yang sedang bersaa seorang penyanyi Amerika di Instagram. Orang-orang langsung menganggapnya pamer. Padahal, apa yang dilakukan Agnez dilakukan pula oleh banyak orang di media sosial. Dan jika ditelaah, semua kritikan itu selalu menyangkut hal remeh-temeh atau tidak substansial. Semua pengkritik hanya menyoroti soal yang tidak penting, seperti style ketika berbicara, postingan di media sosial, atau soal klaim-klaim.

Hebatnya, dia tak pernah menanggapi kritikan itu. Ia terus berbenah dan mengasah diri. Di ranah musik, barangkali dia adalah penyanyi dengan jumlah penghargaan paling banyak di Indonesia. Ia memenangkan puluhan trofi, termasuk 10 Anugerah Musik Indonesia (AMI), tujuh Panasonic Awards, dan empat MTV Indonesia Awards. Ia juga telah dipercaya menjadi duta anti narkoba se-Asia serta duta MTV EXIT dalam memberantas perdagangan manusia.

Pengamat musik Bens Leo menyebut bahwa Agnez adalah satu-satunya penyanyi wanita yang sudah pantas menjadi seorang diva dan penerus Anggun C Sasmi. Ia dianggap mampu menjual CDnya sebanyak 1 juta kopi dalam waktu singkat, berkolaborasi dengan musisi dunia, sampai mengonsep video klipnya sendiri.

Di level internasional, ia berhasil meraih penghargaan dua tahun berturut-turut atas penampilannya di ajang Asia Song Festival di Seoul, Korea Selatan, pada tahun 2008 dan 2009. Hingga akhirnya, ia menjadi satu-satunya artis Indonesia yang pernah menjadi presenter dan berkesempatan menyanyi di Red Carpet American Music Awards di Los Angeles, AS, pada 2010 lalu. Barangkali, ia pula satu-satunya artis Indonesia yang menjadi aktris utama pada dua drama Asia yakni The Hospital dan Romance In the White House yang dibuat oleh sebuah rumah produksi di Taiwan.

Dengan prestasi yang segudang, mengapa Agnez banyak dikritik di media sosial? Bukankah kiprahnya adalah representasi dari semangat kerja keras dan hasrat untuk berprestasi serta ikhtiar untuk menggapai impian?

Bagi saya, semua kritikan itu semakin menunjukkan pijakan kakinya yang sudah kian jauh di dunia entertain. Makian itu semakin menunjukkan bahwa Agnez adalah sosok penting yang namanya semakin berkibar. Harus dicatat, di usianya baru 27 tahun, ia telah mencapai semua hal yang kian menempatkannya sebagai diva musik tanah air. Ia telah ‘melambung jauh’ dengan segala prestasi yang untuk menandinginya mesti menggapai jalan terjal.

***

Pada diri Agnez, kita bisa memetik hikmah demi menyuburkan benih-benih kerja keras dan semangat dalam diri kita. Ia bisa menjadi inspirasi buat kita semua bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Kesuksesan hanya datang dari kerja keras serta proses menyempurnakan diri untuk terus belajar. Ia membuka mata kita semua bahwa usia muda tak selalu bermakna hijau alias tak matang. Pada Agnez, kita bisa belajar beberapa hal:

Pertama, kita belajar tentang bagaimana menanam mimpi dan menyuburkannya secara terus-menerus. Beberapa tahun silam, Agnez selalu menyebut ambisinya tentang go international. Demi mimpi itu ia tak pernah surut. Ia memiliki langkah-langkah kecil untuk menggapai mimpinya. Ia tak mau sekedar diam dan menunggu. Ia berbuat dan melakukan beragam daya dan upaya untuk menggapai mimpinya itu. Penulis Paolo Coelho mengatakan, tak masalah sebesar apapun mimpimu, namun semuanya tergantung pada seberapa kuat ausaha untuk menggapai mimpi itu.

Kedua, Agnez mengajarkan kita tentang pentingnya kerja keras dan perubahan. Saya tak pernah lupa tayangan ketika dirinya menjadi presenter di acara American Music Awards. Ia dikritik karena kemampuan bahasanya yang rendah. Setahun berikutnya, ia mengejutkan semua orang dnegan presentasi dalam bahasa Inggris yang memukau.

Ketiga, Agnez mengajarkan kita tentang dedikasi pada profesi. Sejak masih kecil, ia tahu bahwa jalan hidupnya adalah menjadi seorang penyanyi. Demi pilihan itu, ia mengasah diri. Di tanah air, tak banyak penyanyi cilik yang sukses bertransformasi menjadi penyanyi dewasa yang penuh prestasi. Ia sukses melakukannya sekaligus sukses menuai prestasi.

Keempat, Agnez mengajarkan kita untuk berani menghadapi tantangan-tantangan baru. Ia tak hendak berpikir nyaman dengan menikmati ketenaran sebagai diva musik tanah air. Ia menjemput tantangan baru dengan memasuki jantung musik dunia. Kalaupun ia belum sesukses Anggun, ia telah meniti di atas jalan yang sama, dan kelak akan menempatkannya pada posisi yang sukar digapai penyanyi tanah air lainnya.

Di tanah air, kita terbiasa dengan hidup yang datar-datar saja. Seringkali, kita tak siap dengan hidup ala roller coaster. Ketika melihat seseorang hendak keluar dari zona datar, kita sering tak nyaman dan merasa terganggu. Kita lalu melekatkan berbagai label seperti ambisius, gila, cari popularitas, dan banyak sebutan lainnya. Kita memelihara energi negatif, yang semakin membuat kita semakin tidak produktif dan sibuk memperhatikan orang lain.

Sebagaimana halnya Agnez, jauh lebih jika kita mengasah diri, dan menyalakan motivasi dalam hati kita, yang kemudian menjadi cahaya terang untuk menemani batin kita di belantara kehidupan. Jauh lebih baik jika kita menyerap energi positif dari semua orang, kemudian mentransformasikannya menjadi kerja keras yang menghiasi setiap langkah kita sehingga ladang kehidupan kita akan semerbak dengan bunga-bunga prestasi serta jejak-jejak indah dalam sejarah kehidupan kita.(*)